Efisiensi sumur bor dihitung dari koefisien B dan C pada step drawdown. Lihat contoh tiga sumur, durasi uji 48 sampai 72 jam, dan cara membaca hasilnya.
Dua sumur bor di akuifer yang sama bisa memberi debit yang sangat berbeda. Penyebabnya tidak selalu air di bawah tanahnya, tetapi juga sumur itu sendiri.
Efisiensi sumur bor adalah perbandingan antara penurunan muka air yang tak terhindarkan karena akuifer dengan penurunan total yang terjadi di sumur. Nilainya diperoleh dari pumping test bertahap (step drawdown) lewat koefisien B untuk akuifer dan C untuk sumur. Pada tiga sumur di Cekungan Air Tanah Pekalongan-Pemalang, Hidayat dkk. (2025) melaporkan efisiensi 56,92 sampai 94,84 persen, jadi sumur yang sama-sama berada di akuifer produktif bisa berbeda jauh. Di sini kami merangkum cara membaca hasilnya, contoh tiga sumur itu, dan berapa lama pengujian berlangsung dalam studi yang kami baca.
Apa arti koefisien B dan C pada step drawdown?
Pada step drawdown, debit dinaikkan bertahap dan penurunan muka air tiap tahap dicatat. Hasilnya diolah menjadi garis lurus antara penurunan per debit (Sw/Q) dan debit (Q), dengan B sebagai titik potong dan C sebagai kemiringan, seperti pada makalah Hidayat dkk. (2025). B mewakili kehilangan akibat aliran dalam akuifer, sedangkan C mewakili kehilangan di sekitar dan di dalam sumur.
Dengan rumus umum, efisiensi pada debit Q sama dengan BQ dibagi (BQ + CQ²), dikali 100 persen. Kami menghitung ulang rumus ini dengan angka B, C, dan debit uji dari makalah, dan hasilnya sama dengan efisiensi yang dilaporkan untuk ketiga sumur. Untuk transmisivitas pada uji debit tetap, SOP Lab GHP Undip (2020) memakai metode Cooper-Jacob, yaitu T sama dengan 2,3 Q dibagi (4π Δs), dengan Q dalam m³/hari dan Δs penurunan per siklus logaritma.
| Sumur | Akuifer | B | C | Efisiensi (persen) | T (m²/hari) |
|---|---|---|---|---|---|
| PWP 301 | Semi-tertekan | 1,3491 | 0,0663 | 63,69 | 94,35 |
| PWP 302 | Tertekan | 0,2546 | 0,0527 | 56,92 | 157,71 |
| PWP 303 | Tertekan | 0,9267 | 0,0138 | 94,84 | 74,54 |
PWP 302 memiliki transmisivitas tertinggi, tetapi efisiensinya terendah. PWP 303 memiliki transmisivitas terendah, tetapi efisiensinya tertinggi karena nilai C hanya 0,0138. Artinya akuifer yang baik belum menjamin sumur yang efisien. Makalah tidak menguraikan penyebab spesifik tiap sumur.
Makalah tersebut menghitung debit optimum PWP 302 sebesar 35,34 l/s, jauh di atas debit uji tertinggi sumur tersebut yaitu 3,66 l/s. Angka itu hasil ekstrapolasi dan perlu diperlakukan hati-hati. Penulis sendiri mencatat bahwa uji pada sumur produksi sering belum mencapai potensi akuifer karena kapasitas pompa terbatas. Debit PWP 302 tertulis 3,87 dan 3,66 l/s di bagian berbeda, jadi kami memakai angka dari tabel hasil.
Punya sumur produksi yang debitnya turun atau belum pernah diuji bertahap? Konsultasikan melalui WhatsApp.
Berapa lama pengujian dan seberapa rapat pembacaannya?
Dua studi memberi gambaran durasi pada skala berbeda. Studi Pekalongan-Pemalang menguji tiga sumur, sedangkan Nuzulul Hidayat dan Mokhtar (2021) menguji satu sumur PDAM di Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, dengan kedalaman 138 m dan screen 50 m.
| Aspek | Pekalongan-Pemalang (2025) | Sumur PDAM Magetan (2021) |
|---|---|---|
| Uji pendahuluan | 3 jam pada debit 100 persen | Tidak disebut |
| Step drawdown | 3 step masing-masing 5 jam, debit 33,3, 66,6, dan 100 persen dari potensi akuifer | 3 step masing-masing 60 menit, debit 5,08, 9,10, dan 13,58 l/s |
| Uji debit tetap | 48 jam, sampel air pada jam ke 24 dan 48 | 72 jam, sampel air pada jam ke 1, 48, dan 72 |
| Pembacaan muka air | Tidak disebut | Tiap 1 menit pada menit 0 sampai 10, tiap 3 menit pada menit 10 sampai 25, tiap 5 menit pada menit 25 sampai 60, lalu melebar sampai tiap 3 jam pada jam 48 sampai 72 |
| Hasil utama | Lihat tabel di atas | Penurunan 3,50 m pada 13,58 l/s, specific capacity sekitar 3,88 l/s per m (hitungan kami, 13,58 dibagi 3,50) |
Kedua studi berbeda tujuan, sehingga durasinya tidak bisa disalin begitu saja. SOP Lab GHP Undip tidak menetapkan durasi tahap baku, dan meminta pompa dimatikan setelah muka air tidak berubah selama tiga kali interval pembacaan. SOP yang sama memuat rentang acuan transmisivitas 12,4 sampai 12.400 m²/hari (Driscoll, 1986) sebagai pembanding hasil uji.
Apa yang tidak bisa dijawab pumping test saja?
Pumping test menunjukkan seberapa besar kehilangan di sumur, tetapi tidak menjelaskan sebabnya. Untuk itu diperlukan data konstruksi sumur dan bila ada hasil electric logging.
Layanan Pumping Test kami memakai step drawdown test dan constant rate test, dan jenis ujinya disesuaikan dengan kebutuhan proyek. Perencanaan untuk sumur produksi dibahas lebih lanjut di artikel perencanaan uji pemompaan
Pertanyaan yang sering muncul
Efisiensi sumur adalah porsi penurunan muka air yang berasal dari akuifer dibandingkan penurunan total di sumur. Semakin besar kehilangan di sumur, semakin rendah efisiensinya.
Sumber yang kami baca tidak menetapkan ambang tunggal. Studi Pekalongan-Pemalang melaporkan 56,92 sampai 94,84 persen pada tiga sumur, dan penilaian baik atau tidak mengikuti tujuan sumur.
Step drawdown menaikkan debit bertahap untuk memisahkan kehilangan akuifer dan sumur. Constant rate test memompa pada debit tetap dalam waktu lama untuk menghitung karakter akuifer.
Dua studi di atas memakai 48 jam dan 72 jam. Durasi untuk sumur Anda ditentukan dari tujuan dan kebutuhan perizinan.
Siapkan kedalaman dan diameter sumur, posisi screen, muka air statis, kapasitas pompa, log bor, dan tujuan penggunaan air.
PT Geo Santara Indo
Drilling, Geotechnical & Water Infrastructure
