Dua kajian di Ponjong menunjukkan akuifer karst tidak merata. Lihat resistivitas, kedalaman, dan batas geolistrik sebelum menentukan titik bor di sana.
Di kawasan karst Gunungkidul, mengebor tanpa data bawah permukaan sering berakhir dengan lubang yang kering atau air yang terlalu dalam untuk dijangkau. Kecamatan Ponjong termasuk 10 kecamatan rawan kekeringan pada Juni 2019 menurut pemberitaan yang dikutip makalah penelitian setempat, sehingga salah memilih titik berarti biaya yang terbuang.
Geolistrik Ponjong Gunungkidul membantu karena akuifernya tidak merata, bahkan di satu desa. Kajian Rizqi dan Sugarbo (2021) mengukur tiga lokasi, yaitu Grogol, Garon, dan Sumberejo, pada penelitian akuifer di Desa Tambakromo. Di Grogol, batuan beresistivitas sekitar 10.000 Ωm sampai kedalaman 275 m ditafsirkan sebagai breksi andesit tanpa akuifer. Di Garon, lapisan tuf berakuifer ada pada 80 sampai 150 m, sedangkan di Sumberejo pada 55 sampai 68 m. Titik yang berdekatan bisa memberi hasil sangat berbeda, dan geolistrik membaca perbedaan itu sebelum pengeboran dimulai.
Mengapa akuifer di Ponjong tidak merata?
Rizqi dan Sugarbo menyebut tiga satuan batuan di wilayah ini pada kawasan karst Gunung Sewu, yaitu Formasi Wonosari berupa batugamping, Formasi Semilir berupa tuf, dan Formasi Mandalika berupa breksi andesit yang dianggap batuan dasar. Bukit Panggung setinggi sekitar 700 m disebut sebagai daerah imbuhan, dan makalah menyebut sesar sinistral berarah timur laut ke barat daya. Makalah itu juga mengutip porositas batugamping karst sebesar 5 sampai 50 persen, rentang lebar yang menjelaskan mengapa satu titik tidak mewakili titik lain.
Apa hasil geolistrik di tiga lokasi Tambakromo?
Pengukuran memakai konfigurasi Schlumberger dan diolah dengan perangkat lunak Progress 3.0. Tabel berikut merangkum lapisan yang ditafsirkan penulis.
| Lokasi | Lapisan yang ditafsirkan | Resistivitas (Ωm) | Kedalaman (m) |
|---|---|---|---|
| Grogol | Breksi andesit, dianggap tidak menyimpan air | 10.054 sampai 11.356 | 3 sampai 275 |
| Garon | Tuf lapili, akuifer | 340,11 | 80 sampai 150 |
| Garon | Lempung (tuf lapuk) di atasnya | 56,49 sampai 67,65 | 4 sampai 16 |
| Sumberejo | Tuf lapili, akuifer | 43,63 | 55 sampai 68 |
| Sumberejo | Lempung (tuf lapuk) di atasnya | 10,10 sampai 27,92 | 8 sampai 27 |
Ketebalan akuifer di Garon sekitar 70 m, sedangkan di Sumberejo hanya sekitar 13 m. Kesimpulan makalah menyebut kedalaman akuifer 50 sampai 80 m, angka yang tidak sama dengan tabelnya sendiri, sehingga artikel ini memakai angka tabel dan angka itu perlu dicocokkan dengan PDF aslinya.
Punya lahan di Ponjong atau Gunungkidul dan ingin menentukan titik bor? Diskusikan melalui WhatsApp.
Seperti apa kondisi di Bedoyo, Ponjong?
Fatimah dan Rizqi (2022) menelaah doline di Desa Bedoyo dengan empat seksi geolistrik, yaitu Asem Lulang, Ngalas Ombo, Bedoyo Lor, dan Telaga Mendak. Temuan lapangannya menunjukkan betapa berubah-ubahnya air permukaan di karst. Doline Mendak dan Sunut berair saat musim hujan dan kering saat kemarau, Doline Kedokan tidak berair selama sekitar satu dekade, dan Telaga Bindo lama kering karena retakan pada fondasi bendungannya.
Di seksi Asem Lulang, penulis menyebut sungai bawah tanah pada kedalaman sekitar 120 m, sambil mengakui bahwa metode resistivitas yang dipakai hanya menjangkau kurang dari 40 m. Artinya, data seperti ini cocok untuk memahami lapisan dangkal, bukan untuk menjanjikan air pada kedalaman lebih dari 100 m. Penulis sendiri menyarankan survei geofisika lain untuk melihat batuan yang lebih dalam.
Apa yang dapat dan tidak dapat dijawab geolistrik?
Geolistrik Schlumberger 1D menghasilkan profil resistivitas terhadap kedalaman di satu titik. Dari profil itu ahli geofisika menafsirkan lapisan yang kemungkinan menyimpan air, seperti tuf lapili pada kasus Garon dan Sumberejo. Hasil itu belum menyebut debit. Debit dan kapasitas sumur baru diketahui setelah pengeboran dan uji pemompaan, sedangkan kualitas air memerlukan uji tersendiri. Rizqi dan Sugarbo juga menyatakan perlunya kajian geokimia air untuk menentukan kuantitas dan kualitas akuifer.
- - Lahan yang cukup terbuka untuk bentangan kabel, karena survei di Tambakromo memakai lintasan ratusan meter.
- - Informasi sumur tetangga atau mata air terdekat, termasuk kedalamannya dan perilakunya saat kemarau.
- - Tujuan penggunaan air, rumah tangga atau usaha, supaya kebutuhan debit dapat dibahas sebelum titik dipilih.
- - Kesiapan anggaran untuk pengeboran dan uji pemompaan setelah survei, karena survei saja belum menghasilkan air.
Biaya survei dipengaruhi jumlah titik, panjang bentangan, dan akses ke lokasi, sehingga angkanya dibahas setelah lokasi diketahui. Layanan survei dapat dilihat pada halaman geolistrik air tanah Gunungkidul, dan pengeboran pada halaman jasa sumur bor Gunungkidul.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Cocok sebagai penapis awal. Kajian Rizqi dan Sugarbo (2021) memakainya untuk membedakan titik berakuifer di Garon dan Sumberejo dari titik tanpa akuifer di Grogol. Hasilnya tetap dikonfirmasi dengan pengeboran dan uji pemompaan.
Karena batuannya berganti antara batugamping, tuf, dan breksi andesit, dan batugamping karst memiliki porositas yang sangat bervariasi, 5 sampai 50 persen menurut kutipan makalah.
Itu bergantung pada panjang bentangan dan konfigurasi. Makalah Bedoyo menyebut metode resistivitas yang dipakainya hanya menjangkau kurang dari 40 m, sedangkan survei Tambakromo menafsirkan lapisan sampai 275 m.
Tidak. Debit diketahui setelah pengeboran dan uji pemompaan, dan kualitas air perlu diuji tersendiri.
Siapkan lokasi desa, luas lahan terbuka untuk bentangan kabel, informasi sumur atau mata air terdekat, dan kebutuhan air Anda.
PT Geo Santara Indo
Drilling, Geotechnical & Water Infrastructure
